Indahnya Permata di Bali Timur

Pulau dewata Bali memang masih memiliki daya tarik sendiri untuk para pengunjung wisatawan lokal maupun mancanegara. Untuk sayapun yang notabene adalah orang Bali asli yang lahir dan besar disini (okay, mungkin hanya sampai umur 14 tahun), Bali masih merupakan salah satu destinasi terfavorit untuk saya menghabiskan waktu berlibur. Tak sedikit pula teman-teman saya yang sering berlibur ke Bali. Rata-rata dari mereka menyukai apa yang mereka lihat di Bali. Tapi sayangnya juga tidak sedikit yanga berkata “Bagus sih, seru tapi bosan yah itu itu saja, walaupun banyak hal yang baru tapi konsepnya sama!” Nah biasanya nih yang berkata seperti ini sudah sering ke Bali, mungkin lebih sering lagi daripada saya. Karena terpikir seperti itu dan juga karena saya ingin mengenal Bali lebih dalam lagi. Saya menjelajahi Bali sebelah timur, mencari “permata-permata” yang hilang agar kalian dapat menikmati faset Bali lainnya yang masih asri dan belum tersentuh turisme masal.

Karena kurangnya marketing dari pihak pengelola tempat wisata ini dan akses yang tidak transparan membuat Bali timur tidak sering untuk dikunjungi. Padahal banyak sekali tempat-tempat menarik yang bisa kita lihat disini, misalnya saja tiga tempat yang baru-baru ini saya kunjungi seperti Desa Tenganan, Taman Ujung Sukasada dan juga Taman Air Tirta Gangga. Penasaran dengan tempat-tempat ini?

Desa Tenganan
Desa adat Tenganan adalah sebuah desa tradisional yang terletak di kecamatan Manggis, kabupaten Karangasem. Desa ini merupakan salah satu dari tiga desa yang disebut “Desa Bali Aga”, dua dari yang lainnya adalah Desa Trunyan dan Sembiran (fyi, Sembiran ini letaknya tak terlalu jauh dari kampung Author, Bondalem, mungkin sekitar 7,5 km atau kira-kira 15 menit). Bali Aga itu adalah desa yang masih memegang teguh nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, baik itu adat-istiadat, pola pengaturan bangunan maupun pola hidup. Jika kalian berada disini, kalian akan merasakan bagaimana masyarakat Bali hidup dan menjalani aktifitas mereka sehari-hari dulunya. Meski minim sarana transportasi umum untuk ke desa Tenganan, kalian masih bisa mencapai desa yang letaknya 60 km dari Denpasar dengan menggunakan sarana transportasi pribadi. Untuk masuk ke desa ini kalian hanya perlu mengeluarkan “Dana Punia” yang diartikan secara harafiah sebagai pemberian suci, jadi maksudnya disini kalian dapat membayar berapapun yang kalian mau untuk memasuki areal desa Tenganan ini. Seringkali juga masyarakat Tenganan mengadakan upacara agama, misalnya salah satu yang terkenal adalah upacara keagamaan “Perang Pandan” yang biasanya dilakukan pada “Sasih Kalima” atau setiap bulan kelima, upacara ini dilaksanakan sebagai wujud penghormatan kepada Dewa Indra yang dikenal oleh umat Hindu sebagai Dewa Perang. Sayangnya saya tidak melihat acara ini karena saya berkunjung pada “Sasih Kasanga” (Bulan kesembilan.red). Dari desa Tenganan ini pula datangnya “Kain Gringsing”. Kata Gringsing dapat diartikan sebagai penolak bala. Itu sebabnya kain ini sering dipakai pada saat upacara keagaman. Warna dari kain ini terdiri dari hanya tiga warna yakni, merah, hitam dan putih. Tiga warna ini lebih dikenal oleh masyarakat Hindu Bali/Dharma (Saya menyebutnya Hindu Dharma untuk membedakan Hindu yang ada di Bali dengan yang ada di India.) dengan sebutan “Tridatu”. Konon katanya dahulu warna merah yang dipakai untuk Kain Gringsing adalah darah yang berasal dari musuh-musuh mereka yang telah kalah dalam berperang! (Wow so Rad!). Sayangnya saat saya berkunjung ke desa Tenganan, tidak banyak yang menjual kain Gringsing yang asli. Tetapi walaupun ada rasanya saya tidak akan mampu membelinya karena harganya yang sangat mahal. Kalaupun kalian ingin membeli cindera mata dari desa Tenganan, kalian bisa membeli hasil kerajinan tangan mereka yang lain misalnya saja topeng-topeng khas Bali atau Lontar yang mereka gambari dengan motif dari kisah pewayangan dan juga kehidupan masyarakat bali sehari-hari.

Taman Ujung Sukasada
Masih terletak di Karangasem kira-kira 17 Km dari Tenganan terdapat sebuah Puri dari kerajaan Karangasem. Puri ini dinamai Puri Taman Ujung Sukasada. Puri ini terletak di banjar Ujung, desa Tumbu kabupaten Karangasem. Taman ini dibuat oleh Raja Karangasem yang terakhir yaitu, I Gusti Bagus Jelantik, dibantu oleh tiga arsitektur dari Bali, Belanda dan Cina. Sangat terlihat dari gaya arsitektur yang bercampur gaya bali, eropa dan cina. Pemandangan dan arsitektur yang unik inilah yang sering menarik pengunjung datang ke obyek wisata di Bali timur ini dan tidak segan-segan juga lokasi ini sering digunakan untuk lokasi pemotretan Pre-Wedding. Dahulunya tempat ini seluas 400 Hektarare, tapi yang tersisa sekarang hanyalah 10 Hektarare dikeranakan Landrefom yang terjadi pada era kolonialisme Belanda. Harga tiket untuk masuk ke lokasi adalah Rp. 10.000,00 untuk wisatawan lokal (kemungkinan wisatawan asing Rp. 20.000,00), parkir mobil Rp. 5.000,00, tiket kamera (ya kamera juga harus membayar tiket masuk) seharga Rp. 50.000,00 dan untuk yang ingin melakukan pemotaratan harga yang harus dibayar untuk seluruh kru dan sudah termasuk kamera set adalah sebesar Rp. 600.000,00.

Tirta Gangga
Rasanya tidak akan lengkap jika tidak mengunjungi Tirta Gangga bila sudah berada di Bali Timur. Terletak 15 menit dari Taman Ujung, Tirta Gangga masih merupakan sebuah properti dari Puri Karangasem. Properti ini juga dibuat oleh Raja Karangasem terakhir yaitu I Gusti Bagus Jelantik. Memang sudah hobi sang Raja untuk mendesain dan membangun sebuah istana, konon tidak segan sang Raja turun tangan langsung untuk menggali dan membuat Tirta Gangga dan juga Taman Ujung. Tirta Gangga dapat di artikan sebagai air yang berasal dari Sungai Gangga yang merupakan sungai terbesar di India dan sangat di sakralkan oleh umat Hindu India ataupun umat Hindu Bali Dharma. Taman ini sempat hancur karena letusan gunung Agung di tahun 1963 tapi di bangun kembali dan di restaurasi.
Tiket masuk untuk wisatawan alokal adalah Rp.10.000,00. Para pungunjung dapat menikmati indahnya arsitektur dan air mancur yang terdapat di Tirta Gangga. Selain itu terdapat pula Pura untuk umat Hindu jika mereka ingin bertirta Yatra dan meminta Tirta (nunas Tirta) untuk memasuki daerah Pura pengunjung diwajibkan untuk berpakaian rapi atau sesuai adat bali, sebuah restaurant untuk sekedar melepas lelah dan penat dan juga kolam renang agar dapat menikmati segarnya air dari “Gangga”. Tidak luput juga dari dekat lokasi Tirta Gangga ada juga sebuah penginapan kalau-kalau kalian merasa lelah dan ingin melanjutkan perjalanan esok harinya.

Itulah tiga dari salah satu banyaknya permata tersembunyi yang terdapat di Bali Timur. Jika sudah penat dengan Bali selatan tidak ada salahnya untuk mengunjungi tiga permata ini, dijamin kalian akan terkesan dengan pemandangan yang indah baik di selama perjalanan dari Denpasar ke Karangasem adan juga tentunya di lokasi obyek wisata dan juga arsitektur lama dan unik yang akan membuat tercengang karena indahnya peninggalan sejarah.

This slideshow requires JavaScript.

sampai di tulisan selanjutnya,
DanantiDewi

Advertisements